“Menyamakannya dengan malam, nyatanya
ia tak begitu menenangkan. Mengumpakannya dengan siang, baranya terkadang
meredam. Lalu, siapa ia sebenarnya? Ia bergumam ‘Samakan aku dengan pagi, jiwa
ini akan selalu terjaga, menunggu matahari yang benderang.’ ”
*
“Namaku Shalih. Lihatlah kain-kain lainnya. Kamu tidak
mungkin hanya memilih satu kain, kan? “
“Hmm, sepertinya. Banyak yang bisa
kubawa pulang nanti. Akan kujadikan bahan untuk membuat pakaian.”
“Kalau begitu, kamu bisa memilih ini.
Kualitas paling bagus di tokoku.”
“Jadi, tentang anak-anak itu.”
“Ada apa dengan mereka? Apa yang
ingin kamu tanyakan?”
“Kenapa kamu memilih untuk mengasuh
mereka? Ya selain sistem panti asuhan di sini yang kurang baik menurutmu.”
“Hmm..Aku juga besar tanpa orang tua.
Tapi aku tidak hidup sebatang kara. Ada seorang Ibu yang baik hati, yang mau
mengasuh dan membesarkan. Umurnya sudah renta saat menemukanku waktu bayi dulu.
Ia menjadikanku seperti saat ini.”
“Berarti waktu itu kamu tidak dikirim
ke panti asuhan?”
“Beliau bercerita, saat aku hendak
diantar ke panti asuhan, aku menangis sekencang mungkin, hingga sulit
menenangkanku. Ia berjanji pada pengurus panti asuhan untuk menyerahkanku. Tapi
mataku saat itu menatapnya. Seolah bilang bahwa aku tak ingin pergi. Aku ingin
tetap bersamanya.”
“Beliau sangat baik tentunya
kepadamu, ya?”
“Melebihi itu. Aku kuat karenanya.
Aku bahagia sampai hari ini juga karenanya. Walaupun aku tidak bisa membagikan
kebahagiaan itu dengannya. Tapi aku yakin, bagaimana hidupku sekarang, akan
membuatnya tenang.”
“Dia satu-satunya keluargamu?”
“Satu dan menjadi seluruh keluargaku.
Kamu pernah mendengar kiasan ini, kan? Kamu hanya butuh satu orang untuk
menjadikannya hidupmu. Itulah dia bagiku. Dia ajarkan kepadaku untuk terus
bergerak. Terus berdo’a. Terus meminta. Tapi meminta kepada Tuhan, pastinya.
Akan sehebat apapun hidupmu, kamu hanya penunggu pagi untuk memulai suatu hari.
Jika tidak ada pagi, kamu tidak akan memulai apa-apa. Bergegaslah bangun.
Mulailah segala. Apapun itu. Hebat atau
tidaknya hidupmu pun tidak tergantung seberapa banyak namun seberapa
bermanfaat.”
Kisahnya tak enggan dibagikan oleh
orang asing. Seperti sedang menceritakan sebuah semangat, kain-kain yang ia
jual juga bagai sedang membagikan semangatnya sendiri.
“Gambar balon udara dengan benang
emas ini sungguh unik. Semacam menggambarkan kisahmu dengan beliau.”
“Iya. Betul sekali. Aku sangat kagum
dengan tempat ini. Kapadokya memberikan energi bagi hidupku. Setelah dari sini,
pergilah ke sana. Pandanglah ke langit teratas, balon udara siap mengudara di
antara matahari yang sungguh bercahaya. “
“Selain itu apa yang bisa kulihat di
sana? Aku memang sedang butuh energi dari alam.”
“Banyak, dan salah satunya yang bisa kamu raih sendiri.”
(bersambung)
red
01052020 #8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar