Jumat, 01 Mei 2020

Tentang Dia Yang Bersinar


“Menyamakannya dengan malam, nyatanya ia tak begitu menenangkan. Mengumpakannya dengan siang, baranya terkadang meredam. Lalu, siapa ia sebenarnya? Ia bergumam ‘Samakan aku dengan pagi, jiwa ini akan selalu terjaga, menunggu matahari yang benderang.’ ”
*


 “Namaku Shalih. Lihatlah kain-kain lainnya. Kamu tidak mungkin hanya memilih satu kain, kan? “

“Hmm, sepertinya. Banyak yang bisa kubawa pulang nanti. Akan kujadikan bahan untuk membuat pakaian.”

“Kalau begitu, kamu bisa memilih ini. Kualitas paling bagus di tokoku.”

“Jadi, tentang anak-anak itu.”

“Ada apa dengan mereka? Apa yang ingin kamu tanyakan?”

“Kenapa kamu memilih untuk mengasuh mereka? Ya selain sistem panti asuhan di sini yang kurang baik menurutmu.”

“Hmm..Aku juga besar tanpa orang tua. Tapi aku tidak hidup sebatang kara. Ada seorang Ibu yang baik hati, yang mau mengasuh dan membesarkan. Umurnya sudah renta saat menemukanku waktu bayi dulu. Ia menjadikanku seperti saat ini.”

“Berarti waktu itu kamu tidak dikirim ke panti asuhan?”

“Beliau bercerita, saat aku hendak diantar ke panti asuhan, aku menangis sekencang mungkin, hingga sulit menenangkanku. Ia berjanji pada pengurus panti asuhan untuk menyerahkanku. Tapi mataku saat itu menatapnya. Seolah bilang bahwa aku tak ingin pergi. Aku ingin tetap bersamanya.”

“Beliau sangat baik tentunya kepadamu, ya?”

“Melebihi itu. Aku kuat karenanya. Aku bahagia sampai hari ini juga karenanya. Walaupun aku tidak bisa membagikan kebahagiaan itu dengannya. Tapi aku yakin, bagaimana hidupku sekarang, akan membuatnya tenang.”

“Dia satu-satunya keluargamu?”

“Satu dan menjadi seluruh keluargaku. Kamu pernah mendengar kiasan ini, kan? Kamu hanya butuh satu orang untuk menjadikannya hidupmu. Itulah dia bagiku. Dia ajarkan kepadaku untuk terus bergerak. Terus berdo’a. Terus meminta. Tapi meminta kepada Tuhan, pastinya. Akan sehebat apapun hidupmu, kamu hanya penunggu pagi untuk memulai suatu hari. Jika tidak ada pagi, kamu tidak akan memulai apa-apa. Bergegaslah bangun. Mulailah segala. Apapun itu.  Hebat atau tidaknya hidupmu pun tidak tergantung seberapa banyak namun seberapa bermanfaat.”

Kisahnya tak enggan dibagikan oleh orang asing. Seperti sedang menceritakan sebuah semangat, kain-kain yang ia jual juga bagai sedang membagikan semangatnya sendiri.

“Gambar balon udara dengan benang emas ini sungguh unik. Semacam menggambarkan kisahmu dengan beliau.”

“Iya. Betul sekali. Aku sangat kagum dengan tempat ini. Kapadokya memberikan energi bagi hidupku. Setelah dari sini, pergilah ke sana. Pandanglah ke langit teratas, balon udara siap mengudara di antara matahari yang sungguh bercahaya. “

“Selain itu apa yang bisa kulihat di sana? Aku memang sedang butuh energi dari alam.”

“Banyak, dan salah satunya yang bisa kamu raih sendiri.”
(bersambung)


red            
01052020 #8


Tidak ada komentar:

Posting Komentar