“Untuknya yang telah bersinar,
tetaplah terang. Untukmu yang bersiap untuk berbinar, tetaplah bertahan.”
*
“Banyak, dan salah satunya yang bisa
kamu raih sendiri.”
“Maksudnya? Seperti apa?”
“Nanti ketika telah sampai di atas,
pastikan kamu berdiri tegap, jangan sampai goyah. Lalu rasakan seakan kamu
menggenggam. Menggenggam matahari yang hangat.”
Shalih yang sejak tadi menceritakan
kisahnya dengan raut wajah yang datar, kini mulai antusias dengan
mengkhayalkan, seperti dia sedang mengenggam sesuatu. Ia tersenyum ke arah
luar, seakan sedang memandang sesuatu yang jauh di langit.
“Bagaimana bisa aku menggenggam
matahari, Shalih. Hahaha.. Kamu ini ada-ada saja.”
“Tapi itu yang aku percayai. Itu
adalah tempat terindah yang pernah aku kunjungi selama hidupku. Dari tempat itulah, aku yakin aku bisa meraih
apapun. Apapun yang membuatku bahagia.
Tapi...”
“Tapi apa?”
Shalih melanjutkan dengan tatapan
yang penuh semangat.
“Tapi kamu harus bersabar untuk
sampai ke atas. Nah sesampainya di atas nanti, kamu akan tertunduk dan tak bisa
memandangnya lama. Cukup, kamu genggam dan rasakan kehadirannya.”
Entah apa yang Shalih ceritakan kepadaku.
Aku hanya bisa mengiyakan ceritanya yang mulai didramatisir dan memutuskan
untuk pergi ke tempat berikutnya.
“Hei. Jangan lupa, raihlah apa yang
kamu ingin raih. Genggam sekuat mungkin. Jika terlepas, kamu tidak akan bisa
kembali mendapatkannya.”
Aku tersenyum kepadanya seraya
memberikan uang setelah membeli beberapa kain.
*
Aku bersiap untuk kembali pergi,
pagi-pagi buta. Di sini pukul 03.00. Suhu kota ini mencapai minus 1 Derajat
Celcius. Tentunya, aku yang tidak kuat dingin semacam sedang pergi bertempur.
Memakai beberapa lapis baju hangat. Terdengar berlebihan memang. Tapi, tangan
ini saja sudah mulai membeku. Untuk ke tempat itu, aku harus bangun dan melawan
dingin sepagi ini.
Pukul 04.00.
Semua masih gelap. Menunggu pukul
05.00 untuk mulai diterbangkan oleh keranjang besar yang mengangkut lebih dari
10 orang. Semua di sini pastilah punya tujuan dan perasaan masing-masing. Ada
yang memang antusias dan tidak takut sama sekali. Ada juga yang tidak berhenti
ketakutan dan seakan pasrah ketika akan diterbangkan.
Pukul 06.00.
Sudah berada di ketinggian. Semakin
jauh dari dasar tanah. Melewati
sehamparan menara-menara batu. Tersusun sembarangan namun membentuk
sebuah keindahan. Tibalah di atas. Aku pikir ini sudah paling atas. Ada yang
seakan muncul dari balik awan dan pegunungan. Warnanya semburat jingga.
Berbeloklah balon udara ini. Ia sudah terbit. Dinginnya tak lagi kuingat.
Hangatnya bagai sedang mendekap. Terlalu silau tapi tangan ini butuh
kehangatan. Bagai kugenggam, tapi memang tak bisa kuraih tentunya.
Tidak, semua bisa diraih. Apapun itu. Mungkin saja tidak bisa
diraih seutuhnya. Tapi, ada yang lain yang bisa diraih. Terbang ke atas ini
bukan untuk menggapai sesuatu yang tidak mungkin. Hanya satu yang diingin.
Bagaimana di atas sana? Apakah benar-benar hangat?
Ya, aku sudah meraihnya. Hangat yang ingin kuraih.
*
Benarlah satu tujuan tak harus
menjadi satu-satunya tujuan.
Kau bisa menciptakan tujuan yang
lain.
Dan itu bukan suatu ketidakmungkinan.
Asal kau yakin.
Tak selamanya yang kau raih, tak
mungkin tak dapat digenggam.
red
02052020 #9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar