Sabtu, 02 Mei 2020

Tentang Meraih


“Untuknya yang telah bersinar, tetaplah terang. Untukmu yang bersiap untuk berbinar, tetaplah bertahan.”
*

“Banyak, dan salah satunya yang bisa kamu raih sendiri.”

“Maksudnya? Seperti apa?”

“Nanti ketika telah sampai di atas, pastikan kamu berdiri tegap, jangan sampai goyah. Lalu rasakan seakan kamu menggenggam. Menggenggam matahari yang hangat.”

Shalih yang sejak tadi menceritakan kisahnya dengan raut wajah yang datar, kini mulai antusias dengan mengkhayalkan, seperti dia sedang mengenggam sesuatu. Ia tersenyum ke arah luar, seakan sedang memandang sesuatu yang jauh di langit.

“Bagaimana bisa aku menggenggam matahari, Shalih. Hahaha.. Kamu ini ada-ada saja.”

“Tapi itu yang aku percayai. Itu adalah tempat terindah yang pernah aku kunjungi selama hidupku.  Dari tempat itulah, aku yakin aku bisa meraih apapun.  Apapun yang membuatku bahagia. Tapi...”

“Tapi apa?”

Shalih melanjutkan dengan tatapan yang penuh semangat.

“Tapi kamu harus bersabar untuk sampai ke atas. Nah sesampainya di atas nanti, kamu akan tertunduk dan tak bisa memandangnya lama. Cukup, kamu genggam dan rasakan kehadirannya.”

Entah apa yang Shalih ceritakan kepadaku. Aku hanya bisa mengiyakan ceritanya yang mulai didramatisir dan memutuskan untuk pergi ke tempat berikutnya.
“Hei. Jangan lupa, raihlah apa yang kamu ingin raih. Genggam sekuat mungkin. Jika terlepas, kamu tidak akan bisa kembali mendapatkannya.”

Aku tersenyum kepadanya seraya memberikan uang setelah membeli beberapa kain.
*
Aku bersiap untuk kembali pergi, pagi-pagi buta. Di sini pukul 03.00. Suhu kota ini mencapai minus 1 Derajat Celcius. Tentunya, aku yang tidak kuat dingin semacam sedang pergi bertempur. Memakai beberapa lapis baju hangat. Terdengar berlebihan memang. Tapi, tangan ini saja sudah mulai membeku. Untuk ke tempat itu, aku harus bangun dan melawan dingin sepagi ini.

Pukul 04.00.
Semua masih gelap. Menunggu pukul 05.00 untuk mulai diterbangkan oleh keranjang besar yang mengangkut lebih dari 10 orang. Semua di sini pastilah punya tujuan dan perasaan masing-masing. Ada yang memang antusias dan tidak takut sama sekali. Ada juga yang tidak berhenti ketakutan dan seakan pasrah ketika akan diterbangkan.

Pukul 06.00.
Sudah berada di ketinggian. Semakin jauh dari dasar tanah. Melewati  sehamparan menara-menara batu. Tersusun sembarangan namun membentuk sebuah keindahan. Tibalah di atas. Aku pikir ini sudah paling atas. Ada yang seakan muncul dari balik awan dan pegunungan. Warnanya semburat jingga. Berbeloklah balon udara ini. Ia sudah terbit. Dinginnya tak lagi kuingat. Hangatnya bagai sedang mendekap. Terlalu silau tapi tangan ini butuh kehangatan. Bagai kugenggam, tapi memang tak bisa kuraih tentunya.

Tidak, semua bisa diraih. Apapun itu. Mungkin saja tidak bisa diraih seutuhnya. Tapi, ada yang lain yang bisa diraih. Terbang ke atas ini bukan untuk menggapai sesuatu yang tidak mungkin. Hanya satu yang diingin. Bagaimana di atas sana? Apakah benar-benar hangat?

Ya, aku sudah meraihnya. Hangat yang ingin kuraih.
*

Benarlah satu tujuan tak harus menjadi satu-satunya tujuan.
Kau bisa menciptakan tujuan yang lain.
Dan itu bukan suatu ketidakmungkinan.
Asal kau yakin.
Tak selamanya yang kau raih, tak mungkin  tak dapat digenggam.



red            
02052020 #9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar