Kamis, 07 Mei 2020

Tentang Lantai Kesekian


“Terjaga untuk berlari mengikuti hentak kaki. Riuh pagi tak lupa diiringi senyum dari hati. Bersiap menyambut mereka yang tiba. Siapapun dan darimanapun asalnya. ”
*

Sedikit kisah yang diceritakan sepenggal.
Diawali dengan salam sambut pagi itu.

 “Selamat Pagi.”
“Ada yang bisa saya bantu?”

Kalimat itu diulang terus menerus.
Berdiri seharian.
Berlari sigap kian kemari.
Membawakan ini itu.
Dari siang ke petang.

Malam pun tak kunjung pulang.
Ia sebut pengalaman.
Ia sebut pelajaran.

Saat shubuh kembali tiba.
Pada hari yang berbeda.
Ia ketuk salah satu pintu.

Pada lantai entah berapa.
Tombol angka berapa itu.
Entahlah, ingatnya.

Ia menyuguhi hidangan hangat.
Kepada seseorang yang mengejutkan.
Mengucap  nama Tuhan seketika.

Tetap, senyumnya tak lupa melekat.
Diberi oleh orang itu.
Beberapa lembar uang.

Tak sedikit.
Hatinya maju mundur.
Menolak tak mungkin.
Menerima, berdosa?

Teringat akan persepsi pagi itu.
Disimpannya.

Karena sebuah pemberian tak akan dihujat.
Kelak, ini akan kuberikan pada yang berhak.
Bukan untuk menyucikan.

Namun tentang kerelaan.
Setiap pemberian, yang ia ikhlaskan.

red            
07052020 #13


Tidak ada komentar:

Posting Komentar