“Pada pukul enam pagi.
Tak lupa memikul segala untuk bergerak hari ini. Memenuhi pengharapan, mengejar
pencapaian.”
*
Pada dua ribu sebelas.
Memulai dengan tujuan mengejar kelas.
Ia catatkan betapa babak baru hidup
makin kemelut.
Pikirannya semalam disusun agar tak
bertindak kusut.
Masih belum tampak panas pagi.
Ia sudah berlari.
Dikejarnya agar dapat menopang kaki.
Berdesakan.
Berpeluh keringat.
Berlusuh penat.
Walau ini masih pagi.
Semua wajah tampak sama.
Setiap mata bergerak.
Melihat sekeliling.
Berpikir seakan pusing.
Ada pula mata yang tertutup.
Tak tahan melawan kantuk.
Tapi tidak katanya.
Pemandangan pagi ini yang harus
terekam.
Karena ia yakin, cerita ini yang akan
dikenang.
Omong kosong, bisik si kiri.
Kau hanya perlu tidur untuk mengganti waktu tidur yang kurang.
Tidak, kata si kanan.
Kau hargai setiap rasa pagi ini.
Kau nikmati setiap proses perjalanan
dari sini.
Karena saat kau nyaman,
Kau tak tahu rasa berjuang.
Pada saat kau sedang berjuang,
Ingatlah yang nyaman nantinya bukan
keadaan.
Namun, sikap yang mulai mendewasakan,
Agar kau dapat nyaman di setiap
kenyataan.
red
09052020 #16
Tidak ada komentar:
Posting Komentar