”Karena yang tertinggal hanya kata ‘jika’ di
antara kita,
kita benar-benar hanya sekedar canda
dan cerita.”
*
Membaca tumpukan kartu yang
bertuliskan kata penuh irama.
Tertulis apik hingga seakan yang
dikirimkan adalah sebongkah dunia.
Bualan demi rayuan tak hanya disangka
macam khayalan.
Ia sebut sebuah keseriusan.
Tapi yang berlinang bukan senyuman, tak henti hanya tangisan.
Terduduk lagi tertunduk.
Bersiap bukan untuk melupakan
lagi-lagi yang dimulai.
Barangkali ingin membakar setumpuk
bualan itu.
Seminggu menjelang.
Belum ada tanda-tanda bangkit dan
kuat.
Masih ada rasa marah yang mengikat.
Lalu, mereka yang benar-benar peduli.
Menghadiahkan teman kecil.
Putih dan bersih.
Tak ingin dibalut kegelapan lagi,
ucapnya.
Biarlah kau bersinar lagi, katanya.
Bangkitlah, katanya.
Peluklah ia jika kau tak kuat,
pesannya.
Tak akan aku tertunduk lagi karena
siapapun juga, batinnya.
red
10052020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar