Minggu, 10 Mei 2020

Tentang Tertunduk Sendu


 ”Karena yang tertinggal hanya kata ‘jika’ di antara kita,
kita benar-benar hanya sekedar canda dan cerita.”
*

Membaca tumpukan kartu yang bertuliskan kata penuh irama.
Tertulis apik hingga seakan yang dikirimkan adalah sebongkah dunia.

Bualan demi rayuan tak hanya disangka macam khayalan.
Ia sebut sebuah keseriusan.

Tapi yang berlinang bukan senyuman,  tak henti hanya tangisan.
Terduduk lagi tertunduk.
Bersiap bukan untuk melupakan lagi-lagi yang dimulai.
Barangkali ingin membakar setumpuk bualan itu.

Seminggu menjelang.
Belum ada tanda-tanda bangkit dan kuat.
Masih ada rasa marah yang mengikat.

Lalu, mereka yang benar-benar peduli.
Menghadiahkan teman kecil.
Putih dan bersih.

Tak ingin dibalut kegelapan lagi, ucapnya.
Biarlah kau bersinar lagi, katanya.
Bangkitlah, katanya.
Peluklah ia jika kau tak kuat, pesannya.

Tak akan aku tertunduk lagi karena siapapun juga, batinnya.




red            
10052020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar