Rabu, 10 Juni 2015

Kembali

“Ia menahanku tanpa menggenggam, ia menjagaku tanpa mempertahankan, ia...membuatku bagai tak sanggup melepaskan. Padahal ia tak akan pernah kembali, namun daya tariknya yang selalu menjatuhkan hati.”
***


Kami pernah memulai suatu kisah. Kisah yang manis. Terlalu banyak kenangan yang kami ukir hingga tak bisa kuhapuskan sampai saat ini. Ia mungkin telah bersama yang lain, namun aku masih saja begini. Sesekali aku melihatnya, tersenyum, bahagia, seakan hidupnya baik-baik saja. Sedang aku selalu meneriakkan dalam hati bahwa aku sama sekali tak ingin begini, gelisah, gundah dan resah yang tak berkesudahan. Ia menjauh dariku tanpa perpisahan yang jelas. Bukan ‘selamat tinggal’ yang diucapkan atau ‘terima kasih atas segalanya’ bahkan ‘sudah, sampai di sini saja’ tak pernah ada dalam perpisahan yang tak pernah kuduga ini. Cinta bukan melulu kepada seorang kekasih. Keluarga, sahabat, orang-orang terdekat bahkan orang ‘sepertinya’ yang tidak bisa kukategorikan dengan sebutan di atas. Ia spesial, sebutan yang tepat. Maka, aku jatuh cinta padanya. Ia memang hadir ketika semua tak mempedulikanku. Ia menempatkan dirinya sebagai penyelemat kehancuran hidupku. Namun, hidupnya ternyata tak lebih baik daripadaku. Ia yang sebenarnya rapuh. Tapi, tetap ia yang menghampiriku.
***
“Kabar baik lah kalo lo dapet beasiswa itu. Congrats yah”
“Kabar baik? Kok kabar baik sih, Dri?”
“Kok lo bukannya bersyukur sih, berarti lo gak akan “tersiksa” lagi di sini.”
“Gue harus bertahan, apapun itu keadaannya. Beasiswa ini juga bukan gue yang apply. Nyokap tiri gue yang sengaja rencanain semua. Kok lo gak paham sih?”
“Lo masih berpikiran buruk ke nyokap lo Sy?”
“Gue gak berpikiran buruk, Dri. Emang kelakuannya begitu. Dia sengaja biar gue terpisah sama bokap. Gue pikir selama ini lo paham apa yang sudah gue hadapin.”
“Huh, lo yang bikin gue gak paham. Ketika mereka memikirkan lo, lo malah berbalik menentang mereka. Hargai mereka yang ingin lebih dekat dan perhatian sama lo, Sy.”
“ Jadi, selama ini gue cerita sama lo, saran yang lo kasih, pada akhirnya ini? Lo gak berpihak sama gue? Okey, Dri. Hidup lo memang udah bahagia, gak perlu menghadapi hal kayak gini. Gue paham sekarang.”
Adri terdiam dan menatap tajam Deasy. Ia nampak lelah berargumen dengan perempuan yang ia pikir adalah perempuan tangguh dan dewasa.
“Lo lebih ingin merasakan sendiri di saat banyak orang yang ingin mendekat? Lo lebih ingin menjauh di saat semua orang ingin meraih lo? Lo pernah gak ngerasain sakit yang luar biasa dan yang lo butuhin bukan obat, tapi orang-orang yang ikhlas untuk mendekat? Lo harus sadar akan semua hal itu. Apa yang lo butuhin dan apa yang lo inginin. Karena keinginan hanya dinikmati sesaat dan kebutuhan akan setia mendekap, Sy.”
Kalimat terakhir Adri ditutup dengan meninggalkan Deasy sendiri terduduk di kursi taman. Deasy tidak melihat kepergian Adri yang mengucapkan kalimat yang bagai pisau tajam menyayat hatinya.
***
Dua tahun sudah berlalu. Deasy masih berada di sini. Dia tidak mengambil beasiswa itu. Dia bersikeras akan keinginannya untuk tidak memenuhi harapan Ibu tirinya untuk sekolah ke luar negeri. Ia kini bekerja di sebuah kantor dengan penghasilan yang pas-pasan. Ketika sela waktu istirahat, Deasy hanya terduduk di kursi taman dekat kantornya. Entah kenapa ia rindu, rindu sekali akan seseorang yang spesial yang ia sebut selama beberapa tahun yang lalu. Deasy ingin tahu apa yang Adri lakukan. Ia selalu bertemu dengannya, sekedar berbincang dan tertawa di kursi taman seperti yang Deasy duduki kini. Sepulang kerja, Deasy memberanikan diri untuk mencarinya. Tempat pertama yang ia kunjungi adalah kantor Adri dulu, di sebuah kantor penerbit buku. Namun, atasannya mengatakan kalau Adri tak bekerja lagi di sana, dan telah resign beberapa tahun yang lalu. Ketika kesana Deasy memikirkan kemungkinan di mana Adri sekarang berada. Seorang wanita menghampiri Deasy.
“Mbak, sedang mencari siapa?”
“Adri, Bu...”
“Oh, Adri...Dia udah lama resign dari sini. Kalo alamat kantornya sekarang saya gak tau , Mbak.”
“Oh gitu ya Bu. Hmmm, saya cari di tempat laini aja kalo gitu Bu...”
“Hmmm, tapi ini juga saya gak yakin, tapi waktu itu saya masih di bagian HRD, nah alesan resignnya Adri itu karena ingin melakukan penyembuhan. Tapi, saya juga gak yakin sih”
“Penyembuhan? Emang Adri sakit apa Bu?”
“Duh, kalo detail nya saya gak tahu Mbak. “
Deasy lebih kebingungan lagi. Adri tidak pernah mengatakan kalau dia mengidap penyakit apapun. Adri selalu tampak baik-baik saja. Setelah berhari-hari mencari, hingga berminggu-minggu, Deasy lelah mencari. Ia tak mengetahui keberadaan Adri. Mungkin tak akan pernah tahu.
Ketika suatu siang, Deasy mendapatkan sebuah email dari seorang wanita yang memberitahukan tentang kondisi terakhir Adri.
Dear Mbak Deasy,
Saya mendapatkan informasi bahwa ternyata Mas Adri dirawat di sebuah Yayasan tempat pengidap kanker yang ada di daerah selatan. Berikut saya lampirkan alamatnya. Semoga informasi ini membantu Mbak Deasy untuk bertemu dengan Mas Adri.
 Salam
Membaca email itu, Deasy lebih tidak memahami lagi. Sejak kapan Adri mengidap kanker? Kenapa ia tidak mengetahui keadaan Adri sebegitu parah? Celakanya, Deasy telah menganggap paling mengetahui Adri, namun kini, ia merasa orang asing yang bahkan tak tahu menahu soal Adri, orang yang disebutnya spesial.
***
“Oh, kalo Mas Adri udah 2 tahun belakangan ini mampir ke sini dan sekarang dirawat di sini, Mbak”
“Keluarga Adri pernah dateng ke sini gak Bu?”
“Setau saya, Adri tidak pernah ada pengunjung. Ia sibuk menjadi guru di sini. Jadi, kalo keluarga mungkin tidak ada yang ke sini.”
Aku melihatnya dari jendela. Ia tertawa. Namun, Adri yang dulu tampak sehat, bugar, dan kini lebih kurus, wajahnya yang pucat. Tapi tak membedakan dengan Adri yang dulu, yang selau riang tak pernah muram sekalipun. Ia bersemangat menjadi guru bagi anak-anak yang mengidap penyakit yang sama dengan Adri. Aku tak dapat memberanikan diri untuk menemuinya. Aku tak melangkahkan kaki ke tempat di mana ia kini, aku menghentikannya. Aku hanya bisa menangis melihatnya, dari kejauhan. Dan, ia ternyata menghampiriku.
“Deasy?”
“Lo Deasy kan?”
“Makasih udah dateng...”
Aku yang membelakanginya, hanya bisa menangis tak bisa menjawab pertanyaan. Dan, lagi. Aku tidak bisa membencinya walaupun ia tidak bisa memahamiku, aku tidak bisa meninggalkannya walaupun ia lebih dulu meninggalkanku. Aku, mungkin tak akan pernah kembali, menjadi Deasy yang dulu. Aku, ingin menjadi Deasy yang baru, menerimanya, kembali.


inspired by an incredible song Gravity - Sara Bareilles

June, 10 th 2015

RED

#NulisRandom2015 day 10

1 komentar:

  1. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Kisah di blog ini bagus-bagus. :D
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    BalasHapus