Sabtu, 15 September 2018

Abu-Abu Kala Itu


“Sorot matanya telah lelah menandakan ia menyerah. Senyum wajahnya telah luntur mengguratkan hatinya pasrah. Kau tahu? Manusia tidak mampu ditempa kekecewaan yang sama. Tidak lagi dengan hal yang itu-itu saja.”

***

Pagi itu Ibu sumringah sekali. Semangat mempersiapkan segala hal. Apa yang akan disajikan, berapa jumlah bunga yang akan dipasang, jenis musik apa yang akan diperdengarkan hingga pakaian apik yang akan dikirimkan kelak untuk saudara-saudara jauhnya. Aku tak kalah sibuk. Membantu Ibu menggambarkan model bajunya. Ibu ingin kakak dan adiknya terlihat cantik di hari besar kakak-kakakku. Setelah selesai, kakak dengan cekatan mengirimkan tumpukan kain-kain yang siap untuk dijahit. Sungguh bahagia rasanya. Bila orang menganggap ini hal yang biasa, tidak untuk kami, tidak untuk Ibu. Ibu, yang sudah berumur 56 tahun mungkin Ibu yang tampak bahagia, ceria dan gemar menebar senyum. Tapi dibalik senyumnya, Ibu menyimpan banyak kisah. Kisah itu sering diceritakan pada kami. Bukan sekali ataupun dua kali. Sering bahkan. Ceritanya pilu. Bisa dikatakan, sering diasingkan, dipojokkan, dipersalahkan. Aku yang saat itu masih 6 tahun sempat tak paham, kenapa Ibu selalu sendiri, kenapa Ibu tidak pernah diajak pergi bersama kakak-kakaknya. Kini setelah dewasa, aku bertemu dengan mereka. Sikap mereka kepada Ibu memang terlihat palsu. Atau memang begitu. Entahlah. Seiring berjalannya waktu, satu hal yang baru aku pahami.

Ya, mereka memang palsu. Kepeduliannya, kebaikannya, bahkan senyuman mereka terlalu palsu.

Hari itu, hari besar itu tiba. Kami sibuk. Kami disini (aku, dua orang kakakku, Ayah dan Ibu) hingga lupa makan, mengurus banyak hal. Mereka lalu tiba berbondong-bondong ke rumahku. Ibu dengan tangan terbuka menerima mereka dan menjamu mereka, tidak kurang sedikit pun. Walau wajah lelah  terlihat jelas setelah Ibu berpergian seharian, Ibu tetap semangat bercerita dan tertawa seakan luka lamanya dipendam mendalam. Aku pun ikut senang melihat Ibu akhirnya bisa berkumpul. Jadilah aku tenang karena Ibu sudah berada di tengah saudara-saudaranya yang akan membantunya nanti.

Tak selang beberapa jam, salah satu dari tanteku berbisik kepadaku

“Ri, tante mau pergi dulu ya. Ada urusan sebentar.”

Oh baiklah. Aku pada saat itu terdiam. Acara macam apa, sebesar resepsi pernikahan seperti itu, seorang tante hanya datang sebentar lalu pergi.

“Mau kemana, tante?”

Kalimat itu terlontar begitu saja.

“Ini mau ke danau yang bagus itu.”

Aku sempat terdiam beberapa menit. Akal sehatku sempat terhenti. Dia berlalu tanpa menunggu jawabanku. Aku memandang Ibu dari jauh. Ibu hanya tersenyum melihatku. Jadilah aku dan kedua kakakku yang menemani Ibu hingga acara selesai.

Sepulangnya kami, ada pemandangan yang membuatku terdiam untuk kesekian kalinya. Tidak ada lagi koper-koper mereka. Pikiran konyolku adalah apakah rumahku dirampok? Kenapa semua koper mereka raib? Tidak. Bukan itu ternyata. Mereka memang berkemas, lalu pergi. Tanpa pamit. Ibu lalu tertawa kecil. Berpaling, mengambil segelas air. Besok acara masih dilanjutkan. Sedang mereka malah menghilang. Aku yang tidak dapat memendam emosi ini terlalu lama lalu meluapkan kekesalanku kepada Ibu.

“Bu, mereka pergi tanpa pamit. Bahkan 15 menit gak ada di acara. Ngapain mereka jauh-jauh kesini tapi akhirnya pergi, tanpa pamit?”

“Itulah mereka, Nak. Hatinya seperti tersesat ya.”

Jawaban Ibu singkat. Wajah kecewa Ibu sudah menjawab semuanya. Aku tidak perlu membahasnya. Ibu yang hendak menuju kamar lalu terhenti langkahnya.

“Nak, kamu dan kakak-kakakmu jangan begitu ya kelak. Saling membantu. Saling mendukung. Jangan jatuhkan satu orang untuk menaikkan satu yang lainnya. Jangan biarkan mereka sendiri. Tak perlu saling melukai kalau ada kata-kata yang baik untuk menasehati. Hargai setiap langkah mereka. Jangan halang-halangi karena kebusukan hati. Kalian lahir dari rahim yang sama. Kalian berbagi darah yang sama. Melukai yang lain berarti melukai diri kalian sendiri. Percuma. Hidup hanya sekali, Nak. Jangan berbuat sesuatu yang kalian sesali nanti.”

***

Pesan tersirat Ibu waktu kecil dulu baru aku pahami sekarang. Bukan karena kain abu-abu yang tidak mereka gunakan  di hari besar Ibuku pada akhirnya, tapi keikhlasan mereka untuk turut berbahagia terlalu gelap untuk ditatap. Aku percaya, sebaik apapun bentuk perbuatan, jika orang yang menerima kebaikan ditutupi oleh hati yang kelabu, tidak akan merekah manisnya perbuatan itu.

***




150918

RED

1 komentar: