Minggu, 01 Juni 2025

takdir yang kuyakini

cerita yang sama.

omong kosong yang tak ada bedanya.

luka demi luka yang tak ada habisnya.

telah banyak yang rasa yang dikecewakan karena mereka.

hebatnya ia, tetap bertahan, hingga hari ini.

mungkin di saat belia, ia meyakini bahwa hidupnya akan penuh dengan cinta dan ketulusan.

bisa saja ia bermimpi kelak akan menceritakan indahnya hidup kepada anak-anaknya dengan penuh rasa sayang.

entah pada suatu masa, ia berangan-angan bahwa takdir baik dalam hidupnya mampu menghangatkan dunianya.

tetapi, yang tidak ia ketahui adalah takdir seakan tidak salah alamat.

berpuluh tahun ia rangkai hidupnya, bertarung mengikuti arus takdir.

terkadang di saat takdir tidak berpihak pada keyakinannya, ia hanya mengingat satu hal.

bahwa bahagia itu tidak serta merta menghampiri hidupnya.

bahagia dalam hidup ternyata sesuatu yang harus diperjuangkan.

seberapa keras pun ia berusaha untuk meraih apa yang disebut bahagia, terkadang ia hanya bisa merasakan kesepian.

ia hanya ingin ‘diselamatkan’ oleh seseorang atau siapapun yang memahami lukanya.

selagi tak ada yang mampu menyelamatkannya, ia tetap melanjutkan takdir hidupnya.

dengan segala ketakutan dan kegamangannya, ia sembunyikan dengan baik.

pun pada akhirnya, kalimat yang terucap darinya adalah ‘ada apa dengan hidupku’

aku hanya bisa terdiam.

di saat pertanyaan muncul dan aku yang mendengarnya.

apa yang harus kujawab.

andai saja aku hidup sebagai sahabatnya, akan kubawa ia lari menjauh dari mereka yang tak pernah mempedulikannya.

sejak saat itu, aku selalu mendengarkan semua keluh dan kesahnya.

tak ingin kucela, selalu kudengarkan apapun itu.

hingga dari setiap ceritanya, satu hal yang kupahami adalah,

rasa cinta yang ia dambakan makin lama menjelma menjadi luka.

 

dalam benaknya; dari segala macam luka dan betapa sakitnya itu semua, apakah itu bagian dari takdir? yang kuyakini bahwa segalanya akan terlewati seakan gerimis di siang hari. Atau sekalipun takdir itu seakan hujan lebat, setidaknya akan segera reda meskipun entah kapan waktunya, karena aku percaya bahwa itu adalah takdir.


***

.red

010625

Senin, 17 Maret 2025

kembali

 

Menulis adalah satu-satunya hal yang selalu membuatku kembali.

Kembali mengingat betapa hidup pernah semenyenangkan itu.

Kembali membaca setiap tulisan yang sudah lampau, satu tahun, dua tahun, lima tahun hingga sepuluh tahun yang lalu.

Kembali meraba rasa apa yang sedang dialami pada saat tulisan itu dibuat.

Pada akhirnya, semua tulisan itu yang menjadi pengingat bagiku kini, bahwa aku pernah “sebijak itu”. Aku yang dulu seperti menasehati aku yang sekarang.  

Kelak, segala tulisan pada media ini bisa dibaca hingga nanti dan semoga dapat menginspirasi.

 

Dari aku di 2025.

Minggu, 21 Juni 2020

Ibu Menunggumu

***

Ada yang lebih berbahaya dari sebuah amarah.

Hati yang membatu.

Pikiran yang membuntu.

Ucapan yang kian membisu.

Tak sedikit, ia yang pergi.

Karena tak ingin meruntuhkan kerasnya hati.

Enggan duduk bersama, bertukar pikiran dan berdiskusi.

Atau sekadar berkata jujur dan berani mengakui.

Semakin waktu yang berjalan, seolah berlari.

Ada Ibu yang hingga kini menerimanya, apapun yang terjadi.

Asal ia mengalah pada tingginya ego diri.

Atau kembali,

"Bu, maafkan aku. Tak ada yang lebih berarti dari kerelaan Ibu. Mendo'akanku. Memaafkanku. Entah apapun salah dan khilafku."

*

Menundukkan diri atas keangkuhan hati adalah penawar terbaik untuk hidup lebih berdamai, dari egomu, demi Ibumu...


red
25052020

Kamis, 21 Mei 2020

Tentang Menyambut Ketiadaan


Memantaskan diri yang tak kunjung ada akhirnya. Merawat hati yang entah akan bagaimana rasanya. ”
*

Kamis, 14 Mei 2020

Tentang Lelah Beda Versi


Pada suatu masa, ia ingatkan untuk tetap kuat pada setiap tekanan. Masa yang lain, ia yang lain, mengingatkan untuk tetap tegap pada setiap tantangan.”

*

Rabu, 13 Mei 2020

Tentang Seseorang di Buniasih


“Perjalanan yang membawa kebahagiaan lambat laun menenangkan jiwa yang butuh ketenangan. Jangan lupa sematkan sebuah senyuman pada mereka yang tampak muram.”
*

Selasa, 12 Mei 2020

Tentang Pukul Empat


 ”Jika kehilangan rasa pada diri, mulailah temukan dalam sebuah perjalanan. Boleh jadi yang memberikan makna pada hidupmu bukan yang biasa dijalani, namun yang asing tak segan berbagi  makna walau dalam, sesaat.”
*