“Menyamakannya dengan malam, nyatanya
ia tak begitu menenangkan. Mengumpakannya dengan siang, baranya terkadang
meredam. Lalu, siapa ia sebenarnya? Ia bergumam ‘Samakan aku dengan pagi, jiwa
ini akan selalu terjaga, menunggu matahari yang benderang.’ ”
*